1. APA
YANG ANDA KETAHUI TENTANG PROSA LAMA DAN PROSA BARU
PROSA LAMA
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum
mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Bentuk-bentuk sastra prosa
lama adalah:
1.
Hikayat
Hikayat, berasal dari India dan Arab,
berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta
raja-raja yang memiliki kekuatan gaib.
2.
Sejarah
Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk
prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang
diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta.
3. Kisah
Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan
atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah
Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
4.
Dongeng
Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat
khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
·
Fabel, adalah cerita
lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula
disebut sebagai cerita binatang).
·
Mite (mitos), adalah
cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau
hal yang dipercayai mempunyai kekuatan gaib.
·
Legenda, adalah cerita
lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah.
·
Sage, adalah cerita
lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian,
kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang
·
Parabel, adalah cerita
rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat
atau perbandingan.
·
Dongeng jenaka, adalah
cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas atau cerdik dan masing-masing
dilukiskan secara humor.
5.
Cerita
berbingkai
Cerita berbingkai, adalah cerita yang
didalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh:
Seribu Satu Malam.
PROSA BARU
Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul
setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat. Bentuk-bentuk prosa baru
adalah sebagai berikut:
1.
Roman
Roman adalah bentuk prosa baru yang
mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya.
2.
Novel
Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan
sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang
mengandung konflik.
3.
Cerpen
Cerpen adalah bentuk prosa baru yang
menceritakan sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling
menarik.
4.
Riwayat
Riwayat (biografi), adalah suatu karangan
prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi)
atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau
bahkan sampai meninggal dunia.
5.
Resensi
Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan /
ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll).
6.
Esai
Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah
secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya.
2.
APA YANG ANDA KETAHUI
TENTANG BIOGRAFI DAN OTOBIOGRAFI
·
Biografi
Biografi
adalah suatu tulisan yang berisikan mengenai kisah tentang kehidupan suatu
orang. Biografi sendiri menceritakan berdasarkan dari kegiatan hidupnya
seseorang misalnya tanggal lahir,alamat,nama orang tua,riwayat
pendidikan,peristiwa penting dalam kehidupan seseorang,atau peristiwa menarik
kehidupan sehari-hari,jasa,hasil karya sampai meniggalnya seseorang.
·
Otobiografi
Autobiografi atau Otobiografi adalah suatu tulisan
yang ditulis dari subjeknya sendiri atau dapat dikatakan menulis biografi
sendiri.Autobiografi menulis riwayat dirinya sendiri berdasarkan pengalaman
yang dilewatinya / ingatan pengarang. Autobiografi biasanya lebih mengandalakan
dokumen sebagai referensi tulisannya dan berbagai sudut pandang penulis.
3.
CONTOH DARI BIOGRAFI DAN
OTOBIOGRAFI TENTANG FIGUR, TOKOH MASYARAKAT, PAKAR ATAU AHLI YANG BERKAITAN
ATAU MEMBERI KONTRIBUSI PADA KEBUDAYAAN.
·
Biografi
Biodata Chairil Anwar
Nama Lengkap : Chairil Anwar
Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
Tempat Lahir : Medan, Indonesia
Pekerjaan : Penyair
Kebangsaan : Indonesia
Orang tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)
Biografi
Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di
Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak tunggal dari
pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah. Ayahnya pernah
menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari
Situjug, Limapuluh Kota Ia masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir,
Perdana Menteri pertama Indonesia.
Sebagai anak tunggal yang
biasanya selalu dimanjakan oleh orang tuanya, namun Chairil Anwar tidak
mengalami hal tersebut. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga yang terbilang
tidak baik. Kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Chairil
lahir dan dibesarkan di Medan, sewaktu kecil Nenek dari Chairil Anwar merupakan
teman akrab yang cukup mengesankan dalam hidupnya. Kepedihan mendalam yang ia
alami pada saat neneknya meninggal dunia.
Chairil Anwar bersekolah di
Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi
pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda,
tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis puisi ketika remaja, tetapi
tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang sesuai dengan keinginannya.
Meskipun ia tidak dapat
menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya sia-sia, ia mengisi
waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional ternama, seperti :
Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J.
Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti
Inggris, Belanda, dan Jerman.
Pada saat berusia 19 tahun, ia
pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940
dimana ia mulai kenal dan serius menggeluti dunia sastra. Puisi pertama yang
telah ia publikasikan, yaitu pada tahun 1942. Chairil terus menulis berbagai
puisi. Puisinya memiliki berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan,
kematian, individualisme, dan eksistensialisme.
Selain nenek, ibu adalah wanita
yang paling Chairil cinta. Ia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di
depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya,
Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga
menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Dunia
Sastra
Nama
Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di
“Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia berusia dua puluh tahun.
Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di "Majalah
Pandji" untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu
individualistis. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.
Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di
Indonesia yang tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
Salah satu puisinya yang paling
terkenal dan sering dideklamasikan berjudul Aku ("Aku mau hidup Seribu
Tahun lagi!"). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra
asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya
Siasat "Gelanggang" dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan
"Gelanggang Seniman Merdeka" pada tahun 1946.
Kumpulan puisinya antara lain:
Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949),
Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan
Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949",
diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986);
Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul
Aku ini Binatang Jalang (1986).
Karya-karya terjemahannya
adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena Gempur (1951,
John Steinbeck). Karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,
Jerman dan Spanyol antara lain “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M.
Dickinson (Berkeley, California, 1960); “Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah,
Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962); Chairil Anwar:
Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions,
1963); “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port
Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969).
Ketika menjadi penyiar radio
Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta kepada Sri Ayati tetapi hingga akhir
hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Kemudian ia
memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka
dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun karena masalah kesulitan
ekonomi, mereka berdua akhirnya bercerai pada akhir tahun 1948.
Puisi "Aku"
Chairil Anwar pertama kali
membaca "AKU" di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Hal
ini kemudian dicetak dalam Pemandangan dengan judul "Semangat",
sesuai dengan dokumenter sastra Indonesia, HB Jassin, ini bertujuan untuk menghindari
sensor dan untuk lebih mempromosikan gerakan kebebasan. "AKU" telah
pergi untuk menjadi puisi Anwar yang paling terkenal.
Kalau
sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Karya-karya
yang Membahas Mengenai Chairil Anwar
1. Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949,
diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian
Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
2. Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet
and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972)
3. Abdul
Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar"
(Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas
Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
4. S.U.S.
Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil
Anwar" (New York, 1976)
5. Arief
Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya,
1976).
6. Robin
Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
7. H.B.
Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil
tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
8. Husain
Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam
Ratulangi, 1984)
9. Rachmat
Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern"
(Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1985)
10. Sjumandjaya,
"Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar
(Jakarta: Grafitipers, 1987)
11. Pamusuk
Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
12. Zaenal
Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
13. Drama
Pengadilan Sastra Chairil Anwar karya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di
Gedung Kesenian Kota Tegal (2006)
Akhir
Hayat
Vitalitas
puitis Chairil tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya. Sebelum
menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal
dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949, penyebab kematiannya tidak
diketahui pasti. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet
Bivak, Jakarta.
Menurut catatan rumah sakit
tersebut, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama
menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah,
sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya yakni ususnya
pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas
badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, "Tuhanku,
Tuhanku...".
Makamnya diziarahi oleh ribuan
pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati
sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw
menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema
menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".
·
Otobiografi
Otobiografi Chairil Anwar
Tokoh
satu ini dikenal masyarakat Indonesia sebagai salah satu penyai terhebat yang pernah
dimiliki Indonesia. Dia merupakan Penyair Angkatan '45. Karya-karyanya sudah
banyak diterbitkan. Berikut Biografi dan Profil lengkapnya. Chairil Anwar
dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup
berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas
perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta. Semasa
kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu
memberi kesan kepada hidup Chairil.
Dalam
hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat
neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar
biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu
adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang
nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu.
Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa
puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Kehidupan Chairil Anwar
Sejak kecil, semangat
Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah
membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil.
Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang
dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan
keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang
menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak
pernah diam.
Rakannya, Jassin pun
punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia
kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus.
Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia
Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan
Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu
bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah,
Chairil telah menikahinya.
Chairil Anwar Meninggal Dunia
Pernikahan itu tak
berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak
berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun
menjadi duda. Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil
meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC
kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang
pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan
kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang
tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang
membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus
meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf,
karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil
Anwar.”

Comments